Slow Life Chapter 116

Chapter 116 Dengan Demikian Tuan Putri Pulang ke Veronia Desmond, Sang Penguasa Tanah. Salah satu dari Empat Raja Surgawi dari Pasukan Raja Iblis yang pernah aku lawan dan musuh yang sanggup menyulitkan Ruti. Setahun yang lalu. Republik Perserikatan Kazan. Setelah kami mengalahkan batalion¹ Iblis Marionette, walikota Kazan mengadakan pesta untuk kami. TLN : ¹Kesatuan tentara … Continue reading Slow Life Chapter 116

Slow Life Chapter 115

Chapter 115 Bertarung Bersama Asura Melawan Raja Iblis “Kapten, kita sudah tak sanggup lagi. ” Seorang kru bajak laut berbicara dengan ekspresi serius, ke arah Geyserik yang mana tengah memegang secawan alkohol seputih awan di sebuah bar. “Hn ? ” “Kita sudah mengumpulkan banyak harta karun tapi kita cuma punya tiga kapal, Mother•Elvir, Saint•Marie, dan … Continue reading Slow Life Chapter 115

Slow Life Chapter 114

Chapter 114 Benua Kegelapan Kapal Geyserik memiliki tiga tiang layar. Aku cukup terkejut mengetahui bahwa kapal perang Veronia adalah kapal gali¹. TLN : ¹Kapal perang berukuran panjang, bermesin, terbuat dari besi, bertiang dua atau lebih, dan bersenjata. “Kapal itu dipanggil Mother•Elvir. Kapal yang berani menantang Raja Badai dan melihat ujung Samudera Biru Kesunyian. Pria itu … Continue reading Slow Life Chapter 114

Slow Life Chapter 113

Chapter 113 Tuan Putri Menjadi Bajak Laut 『 Perlindungan Ilahi Kaisar  』. Sebagaimana Geyserik katakan, itu adalah 『 Perlindungan Ilahi 』 yang dipegang oleh Raja Avalonia pertama. Bahkan lebih langka ketimbang 『 Pahlawan  』. Seratus tahun yang lalu, terjadi peristiwa di Kerajaan Gaiopolis, negara para pahlawan, di mana para bangsawan ditendang keluar dari kerajaan, kemudian … Continue reading Slow Life Chapter 113

Slow Life Chapter 112

Chapter 112 Tuan Putri Bertemu Bajak Laut Kami berjalan jauh ke dalam hutan. Di balik semua itu, ini adalah hal yang paling merepotkan padahal hanya untuk menanyakan sesuatu pada Moen. “Ini menyenangkan, bisa berpetualang bersama Onii-chan. ” Kata Ruti, sembari memegang lengan bajuku. Yah, aku rasa ini tidak buruk. Karena Ruti merasa senang. Kuping serigala … Continue reading Slow Life Chapter 112

Slow Life Chapter 110

Chapter 110 Ruti Murka Di tempat lain. Jalanan Distrik Pusat Zoltan. Melebur di kegelapan malam, Tise menapakkan kaki di sepanjang jalan sembari menenteng sekantung oden. Ugeuge-san yang bertengger di lengan Tise, memfokuskan bola mata kecilnya ke arah sekantung oden. Oden yang tersimpan di dalam kantung, terselip toping dumpling ayam, lobak, tendon sapi dan telur. Sayang, … Continue reading Slow Life Chapter 110

Slow Life Chapter 109

Chapter 109 45 Tahun Silam Dua hari berlalu, tengah malam. Di Toko Obat Red & Lit. “Fuuu..  ” Aku memukul-mukul pundakku yang letih. Meski berdiam diri tanpa beraktivitas, otot pasti akan kaku. Aku tidak begitu tahu tentang ‘Imunitas Kelelahan Penuh’, tapi itu berbeda dengan skill Ruti yang bisa menjaga tubuhnya tetap prima. “Ini benar-benar melelahkan~ … Continue reading Slow Life Chapter 109

Cerita Sampingan

Alur Dunia Palsu Pahlawan dan Rekan-Rekannya Catatan penulis: Karena sudah menulis cerita untuk tiga hari kedepan, sekarang aku jadi gabut, bingung mau apa... Aku pun memutuskan untuk menulis ini untuk membuang kegabutan. Cerita yang aku tulis ini bercerita tentang rekan-rekan Ruti di Dunia Palsu, dan juga, cerita ini diambil menurut sudut pandang game. Aku mungkin … Continue reading Cerita Sampingan

Slow Life Chapter 108

Chapter 108 Bajak Laut Ririnrara Kagum Pangeran Sarius, Ririnrara, dan Walikota Tonedo duduk mengelilingi meja. Di belakang pangeran, berdiri dua High Elf, dengan pedang tersarung di pinggang, dan bekas luka bakar di wajah menjadi bukti keberanian mereka sebagai kru kapal perang Veronia yang telah melalui berbagai pertempuran hidup dan mati. “Lalu, apakah anda membawa kabar … Continue reading Slow Life Chapter 108

Slow Life Chapter 107

Chapter 107 Pangeran Sarius dan Bajak Laut Ririnrara Sesampainya di Toko Persewaan Buku, kami menyewa beberapa buku, lalu memutuskan pulang. “Selamat datang, Onii-chan, Lit. ” Ruti menyambut kepulangan kami. “Sini. ” Ruti mengedangkan tangan. “Makasih. ” Aku melepaskan mantel, dan menyerahkannya pada Ruti Menggantungnya di rak. “Hehehe.. ” Entah mengapa, Ruti terlihat senang. “Lit juga. … Continue reading Slow Life Chapter 107